Monday, November 28, 2016

Koleksi Lukisan Karya Canaletto


Giovanni Antonio Canal (18 Oktober 1697 - 19 April 1768), yang lebih dikenal sebagai "Canaletto" (Canal Kecil), adalah pelukis Italia abad ke-18 yang terkenal melalui karya-karya landscape, atau vedute, dari Venesia. Dia adalah anak dari Bernardo Canal yang juga adalah seorang pelukis. Canaletto tinggal di Inggris selama periode 1746-56 dan menciptakan banyak pula lukisan pemandangan disana - meskipun popularitas serta kualitasnya disebut-sebut kalah jauh bila dibandingkan dengan karya-karya awalnya semasa di Venesia. Canaletto mempunyai kelebihan khusus dimana lukisan-lukisannya dianggap menampilkan "pemandangan perkotaan yang menggugah". Karyanya yang paling terkenal adalah "The Stonemason´s Yard" (Halaman Tukang Batu), yang dibuat pada tahun 1725. Lukisan ini kemudian dipersembahkan untuk Sir George Beaumont pada tahun 1823/8. Canaletto, bersama dengan Giambattista Pittoni, Giovan Battista Tiepolo, Giovan Battista Piazzetta, Giuseppe Maria Crespi dan Francesco Guardi, tergabung dalam kelompok pelukis Venesia terkemuka pada masanya

------------------------------------------------------------------------


 San Cristoforo, San Michele and Murano from the Fondamenta Nuove (1722-23)


Grand Canal, Looking Northeast from Palazo Balbi toward the Rialto Bridge (1723-24)


 Grand Canal, Looking East from the Campo San Vio (1723-24)
 
 
 Piazza San Marco (1723-24)


Rio dei Mendicanti (1723-24)


 The Grand Canal, Looking North-East from Palazzo Balbi to the Rialto Bridge (1724)


 The Grand Canal with the Rialto Bridge in the Background (1724-25)


 The Stonemason's Yard (1725)


 Bucentaur's return to the pier by the Palazzo Ducale (1727-29)


The Entrance to the Grand Canal, Venice (1730) 


 Piazza San Marco with the Basilica, Venice (1730-34)


 View of the entrance to the Venetian Arsenal (1732)


The Grand Canal from Palazzo Flangini to Campo San Marcuola (1738)


Rome: Ruins of the Forum, Looking towards the Capitol (1742)


 London: Seen Through an Arch of Westminster Bridge (1746-47)


 Westminster Bridge, with the Lord Mayor's Procession on the Thames (1747)


Westminster Abbey (1749)


 The Strand front of Northumberland House (1752)


Sumber :
www.canalettogallery.com
www.en.wikipedia.org
www.wga.hu

Foto Partisan Yugoslavia

 Foto ini memperlihatkan saat seorang perempuan anggota Partisan yang tertangkap oleh Jerman, Rajna Radić, mengkhianati rekan seperjuangannya dengan memberikan informasi kepada para penangkapnya. Berdasarkan sumber propaganda Jerman, dia bahkan menawarkan diri untuk memperlihatkan lokasi persembunyian teman-temannya dengan berkata: "Disanalah mereka, di lembah itu. Aku akan menunjukkannya sendiri pada kalian!" Rajna Radić tertangkap oleh prajurit-prajurit dari 7. SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen" (di sebelah kiri) dan Grenadier-Regiment 92 (di belakang, memakai tropenmütze). Foto diambil pada tahun 1944 di wilayah Bosnia-Herzegovina (Yugoslavia) 


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com

Tuesday, November 22, 2016

Foto Yugoslavia di Masa Pendudukan Jerman (1941-1945)

Jermanisasi di wilayah Spodnja Štajerska (Styria Bawah/Lower Styria/Untersteiermark): para anggota dari Schutzpolizei (Security Police) dan Ordnungspolizei (Order Police) - bagian dari Höhere SS- und Polizeiführer Alpenland - mengambil dengan paksa anak-anak dari ibu mereka yang putus as di wilayah Celje, Yugoslavia (di halaman sekolah yang sekarang bernama I osnovne škole). Anak-anak itu akan dibawa ke kamp-kamp di Reich untuk dididik ulang dan dibesarkan sebagai orang-orang Jerman. Foto diambil oleh Josip Pelikan pada bulan Agustus 1942


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com

Saturday, November 19, 2016

Buku Batalion Panzer Jerman karya Joseph Lebani


Penulis : Joseph Lebani
Penerbit : Narasi (Bukit)
ISBN : 9789791684934
Terbit pertama : 15 Agustus 2016
Ketebalan : 528 halaman
Ukuran : 19 x 26 cm
Berat : 1,2 kilogram
Sampul : Soft cover

Pada masa Perang Dunia II pihak Jerman membentuk satuan-satuan tank berat setingkat batalyon yang biasa dinamakan sebagai schwere Panzer-Abteilung (Detasemen Tank Berat). Unit ini diperkuat oleh Panzerkampfwagen VII Tiger dan Königstiger sebagai senjata utama. Dengan meriam kaliber 88mm, bisa dibilang bahwa "monster-monster" ini hampir tak ada tandingannya dalam pertempuran melawan tank-tank Sekutu dan Rusia. Dari tahun 1942 s/d 1945, tercatat ada 13 buah batalyon yang dibentuk, 10 dari Heer (schwere Panzer-Abteilung 501 s/d 510) dan 3 dari Waffen-SS (schwere SS Panzer-Abteilung 501/101 s.d 503/103). Bukti ketangguhannya yang luar biasa adalah bahwa, batalyon-baatalyon ini mampu menghancurkan 9.850 tank musuh, sementara hanya kehilangan 1.715 tank milik sendiri - itupun kebanyakan rusak karena masalah mesin ataupun kehabisan bahan bakar. Ini berarti bahwa untuk memusnahkan satu tank berat Jerman, dibutuhkan 5-6 tank musuh yang menjadi "tumbal" untuk melakukannya!

Batalyon-batalyon ini menghasilkan pula jagoan-jagoan perang yang jempolan, yang mampu menghancurkan puluhan atau ratusan tank musuh (baik sebagai komandan tank ataupun penembak meriam). Nama-nama seperti Michael Wittmann, Otto Carius, Kurt Knispel, Bobby Woll dan lain-lain akan selamanya tercatat dalam sejarah sebagai master-master pertempuran tank yang mampu memaksimalkan kemampuan mesin perang mereka yang luar biasa.

Semua itu dibahas secara mendetail dalam buku karangan teman saya Joseph Lebani ini. Mulai dari pembentukannya, hari-perhari operasi serta nasibnya di akhir perang dikupas tuntas tas. Tidak lupa pula ratusan ilustrasi yang menghiasi hampir setiap halaman, yang membantu para pembacanya dalam "mencerna" isi buku, membuat kegiatan membaca buku ini menjadi sesuatu yang menyenangkan dan tidak menjemukan. Setiap halamannya akan membuat Anda seolah menyaksikan langsung detail peristiwa yang terjadi di berbagai medan tempur, hingga terlihat jelas kelebihan, kekurangan, serta perbedaan-perbedaan formasi, taktik, dan kemampuan manuver antara tank Sekutu dengan tank Jerman dalam Perang Dunia II, perang terbesar dalam sejarah dunia modern.

Bila anda berminat untuk memilikinya, maka bisa membeli di toko-toko buku setempat semisal Gramedia dan Gunung Agung, atau bisa juga menghubungi langsung pengarangnya di FACEBOOK beliau. Yang jelas, ini buku WAJIB para penikmat sejarah Perang Dunia II, khususnya pihak Axis dan Jerman!




Monday, November 14, 2016

Foto Kejahatan Perang Nazi dan Wehrmacht

BUMI-HANGUS

Foto ini diambil pada pagi hari tanggal 29 Oktober 1944 dan memperlihatkan seorang komandan Gebirgsjäger Jerman sedang membrifing para perwiranya sebelum dilakukan aksi bumihangus di Bugøyfjord, Finnmark (Norwegia). Perintah pembakaran - yang dinamakan sebagai Unternehmen Nordlicht (Operasi Cahaya Utara) - telah diterima oleh komando militer Wehrmacht di Oslo sehari sebelumnya, tapi baru sampai ke pasukan Jerman yang ditempatkan di Finnmark pada malam harinya. Dalam aksi untuk menahan gerak maju Tentara Merah ini, tidak kurang dari 11.000 rumah, 106 sekolah, 27 gereja, dan 21 rumahsakit yang dibakar. Selain itu, 4.700 sapi juga dilepaskan dari kandangnya, 22.000 jalur komunikasi diputus, jalan-jalan dibom, perahu dan kapal dihancurkan, binatang ternak dibantai, dan 1.000 anak-anak warga setempat yang dipisahkan dari orangtua mereka. Konyolnya, setelah menguasai wilayah Kirkenes pada tanggal 25 Oktober 1944, pasukan Rusia memutuskan untuk menghentikan ofensifnya dan tidak memasuki wilayah Finnmark seperti yang ditakutkan sebelumnya (seusia perang, Kirkenes dikembalikan pada Norwegia)! Finnmark sendiri berada di sebelah utara Norwegia dan berbatasan dengan Lapland (Finlandia) serta Murmansk Oblast (Uni Soviet). BTW, tidak ada keterangan mengenai asal unit para perwira dalam foto ini, yang jelas mereka berasal dari 20. Gebirgsarmee (2. Gebirgs-Division dan 6. Gebirgs-Division) yang beroperasi di front Finnmark dan Murmansk dari tahun 1941 s/d 1944.

----------------------------------------------------------------------

EKSEKUSI WARGA SIPIL

Foto yang diambil oleh Kriegsberichter Gerhard Gronefeld pada tanggal 22 April 1941 ini memperlihatkan seorang perwira dari Infanterie-Regiment (motorisiert) "Großdeutschland" menghabisi warga lokal - yang kelihatan masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan setelah eksekusi massal - di pinggir kuburan Ortodoks tua di Pančevo, Serbia (Yugoslavia), sementara di sebelahnya memperhatikan perwira lain dari SS-Division (motorisiert) "Reich". Di hari itu, tidak kurang dari 36 orang warga sipil tak bersalah dieksekusi (dengan tuduhan tak berdasar bahwa mereka adalah bagian dari pemberontak bersenjata), sebagai balasan dari serangan terhadap dua orang prajurit Jerman - juga untuk sembilan orang warga etnis Jerman yang dieksekusi sebelumnya karena menyerang prajurit Yugoslavia. Ke-36 orang warga tersebut dibagi dua: satu kelompok dieksekusi dengan cara ditembak, sementara kelompok lainnya digantung. Sebagai eksekutor kelompok pertama dipilih resimen Großdeutschland yang kebetulan sedang berada disana, sementara eksekutor kelompok kedua dilaksanakan oleh warga etnis Jerman yang tinggal di wilayah sekitar. Perintah pelaksanaan eksekusi ditandatangani oleh komandan garnisun, Oberstleutnant Fritz Bandelow dari Großdeutschland, sementara sebagai hakim/pengambil keputusan adalah SS-Sturmbannführer Rudolf Hoffmann dari SS-Division (motorisiert) "Reich". Pada persidangan penjahat perang di Jerman setelah perang usai, Hoffmann dinyatakan tidak bersalah. Foto-foto lain dari peristiwa ini bisa dilihat di bawah:






----------------------------------------------------------------------

JERMANISASI ANAK WILAYAH PENDUDUKAN

Jermanisasi di wilayah Spodnja Štajerska (Styria Bawah/Lower Styria/Untersteiermark): para anggota dari Schutzpolizei (Security Police) dan Ordnungspolizei (Order Police) - bagian dari Höhere SS- und Polizeiführer Alpenland - mengambil dengan paksa anak-anak dari ibu mereka yang putus as di wilayah Celje, Yugoslavia (di halaman sekolah yang sekarang bernama I osnovne škole). Anak-anak itu akan dibawa ke kamp-kamp di Reich untuk dididik ulang dan dibesarkan sebagai orang-orang Jerman. Foto diambil oleh Josip Pelikan pada bulan Agustus 1942

----------------------------------------------------------------------

TOKOH-TOKOH BRUTAL

Para prajurit dari I.Bataillon / SS-Freiwilligen-Gebirgsjäger-Regiment 2 / SS-Freiwilligen-Division "Prinz Eugen" berlatih memanjat gunung di salah satu tempat di Serbia, bulan November 1942. Hanya beberapa minggu sebelumnya, dalam aksi tempur pertama mereka, batalyon ini sudah melakukan tindakan kekejaman terhadap warga sipil (termasuk diantaranya adalah yang terjadi di Kriva Reka, dimana mereka meledakkan sekelompok orang dalam sebuah gereja!). Foto ini terbilang langka karena memperlihatkan komandan mereka, SS-Sturmbannführer Richard Kaaserer (nongkrong di atas bebatuan tanpa mengenakan topi), yang nantinya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu kriminal paling buas di medan perang Yugoslavia dalam Perang Dunia II! Di luar dari kegiatan "rutin" menyiksa warga sipil tak berdosa, Kaaserer juga berulangkali menyiksa prajuritnya sendiri, dan pernah diajukan ke mahkamah militer SS karena masalah ini! Dia dituduh telah memukul, menendang dan mencambuk anakbuahnya saat pelatihan sedang berlangsung; menggilas salah satu dari mereka menggunakan kuda; menahan satu kompi penuh dalam posisi "siaga" dibawah terik matahari sampai beberapa diantaranya jatuh pingsan; dan bahkan menembak salah seorang diantaranya! Pengadilan SS menyatakan bahwa kekejiannya bersumber dari ketidakstabilan mentalnya (sesuatu yang dianggap bukan masalah serius) - dan Kaaserer diizinkan untuk melanjutkan karirnya di Yugoslavia, sampai akhirnya menjadi SS- und Polizeiführer (SSPF) Sandschak dengan pangkat SS-Oberführer. Sikap brutal serta memandang rendah terhadap anakbuahnya sendiri - yang kebanyakannya berasal dari kalangan petani - kemungkinan besar berimbas pada kekejaman batalyon pimpinan Kaaserer terhadap warga sipil yang mengikuti kemudian (seperti yang saama diketahui: kekerasan hanya akan berujung pada kekerasan lainnya). Bisa dibilang bahwa sang Bataillonkommandeur dan anakbuahnya adalah yang paling bertanggungjawab terhadap reputasi kriminal dari Divisi "Prinz Eugen", reputasi yang nantinya malah diperburuk oleh unit-unit lainnya, dan yang sampai sekarang dicatat dengan tinta hitam sejarah. Kaaserer menemui akhir hidupnya saat digantung di Beograd (Yugoslavia) pada bulan Januari 1947. Foto oleh SS-Kriegsberichter Homann


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com
www.forum.axishistory.com
www.nrk.no
www.serbianna.com

Foto Pegunungan dan Bukit Batu

Para prajurit dari I.Bataillon / SS-Freiwilligen-Gebirgsjäger-Regiment 2 / SS-Freiwilligen-Division "Prinz Eugen" berlatih memanjat gunung di salah satu tempat di Serbia, bulan November 1942. Hanya beberapa minggu sebelumnya, dalam aksi tempur pertama mereka, batalyon ini sudah melakukan tindakan kekejaman terhadap warga sipil (termasuk diantaranya adalah yang terjadi di Kriva Reka, dimana mereka meledakkan sekelompok orang dalam sebuah gereja!). Foto ini terbilang langka karena memperlihatkan komandan mereka, SS-Sturmbannführer Richard Kaaserer (nongkrong di atas bebatuan tanpa mengenakan topi), yang nantinya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu kriminal paling buas di medan perang Yugoslavia dalam Perang Dunia II! Di luar dari kegiatan "rutin" menyiksa warga sipil tak berdosa, Kaaserer juga berulangkali menyiksa prajuritnya sendiri, dan pernah diajukan ke mahkamah militer SS karena masalah ini! Dia dituduh telah memukul, menendang dan mencambuk anakbuahnya saat pelatihan sedang berlangsung; menggilas salah satu dari mereka menggunakan kuda; menahan satu kompi penuh dalam posisi "siaga" dibawah terik matahari sampai beberapa diantaranya jatuh pingsan; dan bahkan menembak salah seorang diantaranya! Pengadilan SS menyatakan bahwa kekejiannya bersumber dari ketidakstabilan mentalnya (sesuatu yang dianggap bukan masalah serius) - dan Kaaserer diizinkan untuk melanjutkan karirnya di Yugoslavia, sampai akhirnya menjadi SS- und Polizeiführer (SSPF) Sandschak dengan pangkat SS-Oberführer. Sikap brutal serta memandang rendah terhadap anakbuahnya sendiri - yang kebanyakannya berasal dari kalangan petani - kemungkinan besar berimbas pada kekejaman batalyon pimpinan Kaaserer terhadap warga sipil yang mengikuti kemudian (seperti yang saama diketahui: kekerasan hanya akan berujung pada kekerasan lainnya). Bisa dibilang bahwa sang Bataillonkommandeur dan anakbuahnya adalah yang paling bertanggungjawab terhadap reputasi kriminal dari Divisi "Prinz Eugen", reputasi yang nantinya malah diperburuk oleh unit-unit lainnya, dan yang sampai sekarang dicatat dengan tinta hitam sejarah. Kaaserer menemui akhir hidupnya saat digantung di Beograd (Yugoslavia) pada bulan Januari 1947. Foto oleh SS-Kriegsberichter Homann 


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com

Foto Fall Schwarz (15 Mei 1943 - 16 Juni 1943)

 Fall Schwarz, 20 Mei 1943: Para legiuner Kroasia yang merupakan anggota dari 369. (Kroatische) Infanterie-Division "Teufels-Division" dengan terburu-buru membawa rekan mereka yang terluka dalam pertempuran melawan pasukan Partisan Yugoslavia di lembah Ćehotina yang terletak di dekat Gradac (Pljevlja). Dengan dukungan penuh kekuatan udara, divisi yang anggotanya sebagian besar adalah sukarelawan Kroasia tersebut berhasil memukul mundur kekuatan musuh yang berasal dari 6. Istočnobosansku Brigadu (Brigade Bosnia Timur ke-6), 3. Dalmatinsku Brigadu (Brigade Dalmatia ke-3), dan 7. Banijsku Brigadu (Brigade Banija ke-7)


  Fall Schwarz, 15 Mei s/d 16 Juni 1943: SS-Sturmbannführer Bernhard Dietsche (kedua dari kiri, Kommandeur II.Bataillon / SS-Freiwilligen-Gebirgsjäger-Regiment 2 / SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen") berbincang-bincang dengan Letnan-Dua S. Samardžić (kedua dari kanan, Komandan sebuah brigade Chetnik) di sebuah tempat di Bosnia-Herzegovina (Yugoslavia). Di tahun itu Samardžić tertangkap oleh pasukan Jerman dan ditawan di Penjara Zenica - meskipun pada akhirnya dia berhasil meloloskan diri tak lama kemudian



Sumber :

Foto 369. (Kroatische) Infanterie-Division "Teufels-Division"

Para perwira dari Verstarken Kroatischen Infanterie Regiment 369 berfoto bersama seusai upacara penganugerahan medali di Golubinskaya, Volgogradskaya Oblast, Rusia, pada tanggal 24 September 1942 di acara kunjungan Poglavnik Ante Pavelić ke markas besar 6. Armee. Dari kiri ke kanan: Major Tomislav Brajković, Oberleutnant Blago Zlomislić, Hauptmann artileri Vasilije Maljgin, dan seorang perwira Jerman tak dikenal. Dengan bangga mereka mengenakan medali yang baru saja mereka peroleh, yang merupakan perpaduan dari medali Jerman serta Kroasia: Eisernes Kreuz II. Klasse, Željezni trolist (Kroatisches Eisernes Dreiblatt/Croatian Military Order of the Iron Trefoil), dan Red krune kralja Zvonimira (Kroatisches Kriegsordens der Krone des Königs Zvonimir/Croatian Order of the Crown of King Zvonimir). Dua perwira di tengah mengenakan Croation Legion 1941 Linden Leaf Badge di bagian samping M38 feldmütze mereka


General Pukovnik (Letnan-Jenderal) Vilko Begić, Sekretaris Negara di Kementerian Peperangan NDH Kroasia, memberikan selamat kepada para prajurit dari 369. (Kroatische) Infanterie-Division "Teufels-Division" dalam upacara penganugerahan medali yang diadakan setelah berakhirnya Unternehmen Weiß (Operasi Putih). Upacara diadakan di lapangan udara Rajlovac yang terletak di dekat Sarajevo (Bosnia), tanggal 25 Maret 1943. Begić sendiri nantinya menjadi wakil dari pemimpin NDH, Ante Pavelić


 Fall Schwarz, 20 Mei 1943: Para legiuner Kroasia yang merupakan anggota dari 369. (Kroatische) Infanterie-Division "Teufels-Division" dengan terburu-buru membawa rekan mereka yang terluka dalam pertempuran melawan pasukan Partisan Yugoslavia di lembah Ćehotina yang terletak di dekat Gradac (Pljevlja). Dengan dukungan penuh kekuatan udara, divisi yang anggotanya sebagian besar adalah sukarelawan Kroasia tersebut berhasil memukul mundur kekuatan musuh yang berasal dari 6. Istočnobosansku Brigadu (Brigade Bosnia Timur ke-6), 3. Dalmatinsku Brigadu (Brigade Dalmatia ke-3), dan 7. Banijsku Brigadu (Brigade Banija ke-7)


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com
www.wehrmacht-awards.com

Foto Pakaian dan Perlengkapan Jerman Hasil Rampasan


Foto terkenal yang memperlihatkan Private James W. "Jim" Flanagan (14 Maret 1923 - 8 Desember 2005), CoC 2nd platoon/502nd Parachute Infantry Regiment/101st Airborne Division, sedang memegang bendera Swastika hasil rampasan yang diambil di Marmion, Prancis, di pagi hari pertama serbuan Sekutu ke Normandia (6 Juni 1944)


Setelah pertempuran usai, para pemenang dari 3/502nd Parachute Infantry Regiment memamerkan hasil rampasan mereka: sebuah bendera Swastika! Dari kiri ke kanan: Lieutenant Colonel Robert G. Cole, 1st Sergeant Hubert Odom (DSC, G/502), Staff Sergeant Robert P. O'Reilly (HQ, 3/502), dan Major John P. Stopka (XO, 3/502)



Sumber :Buku "101st Airborne: The Screaming Eagles in World War II" karya Mark Bando

Sunday, November 13, 2016

Foto Hasil Karya Kriegsberichter Gerhard Garms

 Foto berwarna ini diambil oleh Kriegsberichter Gerhard Garms pada tahun 1942, dan memperlihatkan siluet para personil U-boat saat bertugas di “Brückenwache” (Pengawas Jembatan) ketika lautan sedang bergelora. Kondisi samudera semacam ini dapat memberikan ancaman tersendiri bagi para Pengawas Jembatan bila dia tidak memperhitungkan tinggi ombak yang datang. Pengawasan keadaan sekitar di ruang terbuka seperti ini adalah salah satu tugas awak U-boat yang paling penting. Memperhatikan empat penjuru mata angin bagaikan sebuah "tugas suci", dimana nasib dan kesuksesan kapal selam tergantung padanya. Kecerobohan dalam hal ini dapat menimbulkan konsekuensi yang fatal. Pengawas Jembatan biasanya terdiri dari empat orang: satu perwira dan seorang lagi berdiri menghadap ke depan di menara pengawas, sementara satu bintara dan seorang lagi di belakang mereka. Dengan menggunakan teropong, setiap petugas jaga harus mengamati sektor bagian mereka yang telah ditentukan tanpa terhenti. Tiap lima menit sekali, masing-masing petugas harus memberikan laporan bahwa “Sektor ist frei melden” (sektor clear), bila memang begitu keadaannya. Peraturan melarang keras adanya percakapan antar petugas jaga. Laporan pengawasan harus dibuat dalam bahasa yang jelas dan tepat guna sambil menunjukkan jari ke arah yang dimaksud. Petugas jaga juga dilarang untuk merokok saat bertugas. Di wilayah dimana diperkirakan tak ada ancaman dari udara, awak U-boat lain diperbolehkan untuk ikut nongol di menara pengawas, sekedar untuk merokok, tapi tidak boleh lebih dari dua orang dalam sekaligus (di luar dari empat orang lain yang bertugas jaga). Di malam hari, merokok di menara pengawas sama sekali terlarang. Brückenwache diharapkan untuk lebih waspada lagi di wilayah-wilayah dimana potensi ancamannya sangat besar (Bay of Biscay dan Laut Utara), serta dalam situasi-situasi khusus. Termasuk diantara yang terakhir adalah saat kapal berhenti, senjata dek digunakan, berpapasan dengan kapal selam lain, serta dilamgsungkannya interogasi awak kapal musuh yang selamat. Pada saat-saat semacam ini, perhatian Brückenwache dengan mudah dapat teralihkan, sehingga berakibat pada terpecahnya konsentrasi. Bahaya serangan dadakan muncul terutama pada situasi tersebut. Karena efek cahaya matahari yang menyilaukan, para Petugas Jaga juga diwajibkan untuk mengenakan kacamata hitam ketika sang surya berada di kuadran mereka. Para petugas ini diganti setiap dua atau empat jam sekali, dengan interval masa pergantian tiap lima menit selama satu jam penuh. Hal ini untuk mencegah agar tidak terlalu banyak orang berada di menara pengawas saat tiba-tiba harus menyelam (crash dive), dan juga untuk memberi waktu bagi Petugas Jaga yang baru untuk beradaptasi dengan kegelapan atau cahaya. Khusus untuk malam hari, 15 menit sebelum waktu pergantian, Petugas Jaga baru terlebih dahulu memakai kacamata infra merah di bawah dek. Petugas Jaga lama hanya boleh pergi manakala yang menggantikannya sudah beradaptasi selama beberapa menit dengan lingkungan sekitarnya. Peraturan mensyaratkan bahwa Perwira Pengawas dan Petugas Jaga terbaik bekerja di waktu-waktu yang dianggap paling berbahaya. Penugasan Petugas Jaga sendiri merupakan kewenangan penuh dari kapten kapal. Saat laut bergelora dengan ombak tinggi mencapai menara pengawas, pekerjaan pengawasan semacam ini menjadi sebuah tugas yang menuntut kemampuan maksimal dari para awak U-boat. Bila angin, udara dingin, hujan atau kabut ikut hadir, maka orang-orang ini kadangkala sudah dalam keadaan lelah luar biasa saat tiba waktunya untuk diganti. Dalam kondisi alam yang tidak bersahabat tersebut, sang kapten biasanya memerintahkan para Petugas Jaga untuk memakai sabuk pengaman, yang dapat mencegah mereka terbawa ombak besar. Sabuk ini hanya bisa dilepas juga atas perintah kapten. Pintu keluar di menara pengawas selalu dalam keadaan tertutup apabila ombak sedang tinggi agar air tidak masuk ke dalam. Tanpa Brückenwache yang efisien, maka sebuah U-boat mempunyai kemungkinan yang kecil untuk selamat atau sukses dalam misinya


Foto berwarna ini diambil oleh Kriegsberichter Gerhard Garms pada tahun 1942, dan memperlihatkan saat “Brückenwache" (Pengawas Jembatan) sedang bekerja mengawasi kondisi sekitar tak lama setelah usainya badai lautan yang ganas. Mereka masih mengenakan jaket dan topi karet anti air yang merupakan perlengkapan wajib di saat kondisi laut sedang tidak bersahabat. Selain dari empat pengawas yang merupakan jumlah standar saat bertugas, terlihat pula seorang Obersteuermann (Kelasi Pertama) yang berada di balik periskop, sedang mempersiapkan alat sekstan (alat navigasi untuk menentukan sudut antara kapal dengan benda-benda lain, baik benda-benda di darat maupun benda angkasa) untuk keperluan “Sonne zu Schießen” (melihat matahari). Dia bertanggungjawab untuk keakuratan navigasi kapal dan memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia untuk melihat posisi matahari demi menentukan arah kapalnya. Hanya sang Obersteuermann dan Kapten Kapal yang boleh menuliskan posisi serta arah U-boat mereka menuju. Foto berwarna ini juga memperlihatkan detail menarik yang tidak mungkin didapatkan dari foto hitam-putih biasa: beragam warna berbeda dari jaket karet yang mereka kenakan, dari krem sampai ke hijau pucat dan hijau gelap


Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.3 - 2008

Wednesday, November 9, 2016

Foto Kamuflase Kapal Laut

Suasana pangkalan 22. Unterseeboots-Flottille (22. U-Flottille) di teluk pelabuhan Gotenhafen-Oxhöft yang membeku akibat cuaca ekstrim di musim dingin tahun 1941-42. Yang memakai skema kamuflase lima-warna di sebelah kiri adalah kapal pengawal U-boat "Erwin Wassner", sementara di sebelah kanannya adalah tiga buah U-boat latih Tipe II milik 22. U-Flottille yang terjebak di perairan beku tanpa sempat untuk menyelamatkan diri. Pengawal kapal selam tersebut mengawali karirnya di lautan sebagai "Gran Canaria" pada tanggal 21 Januari 1938, sebelum diambil alih hak kepemilikannya oleh Kriegsmarine di tahun yang sama. Setelah mendapat modifikasi yang diperlukan, pada tanggal 29 Maret 1939 dia operasional kembali dengan nama baru, "Erwin Wassner". Namanya sendiri diambil dari jagoan U-boat dalam Perang Dunia I yang juga adalah peraih Pour le Mérite, Erwin Wassner. Pada tahun 1930-an Wassner bertugas sebagai atase militer Jerman di London, dengan pangkat Konteradmiral, sebelum meninggal pada tahun 1937. Setelah Perang Dunia II pecah pada tahun 1939, F.d.U. (Führer der Unterseeboote) Karl Dönitz dan staff-nya memutuskan untuk menggunakan nama Erwin Wassner sebagai nama salah satu kapal komando Kriegsmarine, sampai dengan bulan November 1939 ketika staff operasi, yang telah direorganisasi ulang menjadi B.d.U. (Befehlshaber der Unterseeboote) di bulan Oktober sebelumnya, pindah markas ke Sengwarden yang terletak di dekat Wilhelmshaven. Kapitän zur See Hans-Georg von Friedeburg, Kepala Departemen B.d.U. yang bertanggungjawab terhadap masalah pasokan suplai bagi seluruh organisasi, menjadikan "Erwin Wassner" sebagai markas bergeraknya, termasuk saat kapal tersebut berlabuh di Gotenhafen-Oxhöft pada awal tahun 1942. Di malam tanggal 23-24 Juli 1944, "Erwin Wassner" ditenggelamkan oleh bom-bom pesawat Sekutu saat serangan udara malam yang dilancarkan oleh RAF Bomber Command di pelabuhan Kiel. Foto ini diambil oleh Kapitänleutnant (Ing.) Otto Elwert, seorang instruktur di 2. Unterseeboote-Lehrdivision (ULD, Divisi Pelatihan Kapal Selam Kedua) di Gotenhafen


Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.2 - 2007

Tuesday, November 8, 2016

Foto 22. Unterseebootsflottille (22. U-Flottille)

  Meskipun pelabuhan-pelabuhan di Prusia Timur dan Barat biasanya tetap aktif beroperasi di musim dingin yang membekukan karena cuaca mereka yang lebih hangat dibandingkan dengan wilayah Jerman lainnya, tapi musim dingin tahun 1941-42 memecahkan semua rekor terdingin yang pernah ada. Pada pertengahan bulan Januari 1942, udara beku Siberia mengalir melewati wilayah-wilayah bertekanan tinggi diatas Rusia dan Eropa Utara. Hanya dalam waktu semalam, temperatur di pelabuhan-pelabuhan Baltik Prusia Timur dan Barat langsung anjlok sampai 20 derajat celcius di bawah nol! Tanpa ampun, perairan pun langsung membeku dalam waktu singkat, dan menjebak semua kapal yang berlabuh disana, termasuk sekumpulan U-boat yang berada di pangkalan pelatihannya. Flotilla-flotilla U-boat di Danzig, Pillau dan Gotenhafen dipaksa untuk menghentikan pelatihan praktis di dalam kapal selam. Kapitänleutnant (Ing.) Otto Elwert, seorang instruktur di 2. Unterseeboote-Lehrdivision (ULD, Divisi Pelatihan Kapal Selam Kedua) di Gotenhafen, mengabadikan keadaan sulit yang menimpa 22. U-Flottille di Gotenhafen-Oxhöft dengan menggunakan rol film berwarna Agfa. Foto-foto yang kemudian tercetak memperlihatkan kapal-kapal selam Kriegsmarine yang membeku di perairan es. Pada saat itu 22. U-Flottille memiliki 18 buah kapal latih: U-8, U-14, U-19, U-56, U-57, U-58, U-59, U-78, U-137, U-138, U-139, U-140, U-142, U-143, U-145, U-146, U-149, dan U-150 (semuanya berasal dari U-boat Tipe II, kecuali U-178 yang merupakan Tipe VIIC). ULD Kedua sendiri dibentuk pada bulan Juni 1940 dan memulai operasional pelatihannya di pangkalan Gotenhafen pada tanggal 1 November 1940. Komandan pertamanya adalah Fregattenkapitän Werner Hartmann yang berusia 39 tahun dan telah dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 9 Mei 1940 setelah dengan sukses menjadi Kapten U-37. Hartman berasal dari Kru 21 dan usia serta kesuksesan yang telah diraihnya membuat dia menjadi seorang komandan unit pelatihan yang ideal. Tapi ternyata peranan barunya hanya berumur pendek, dan pada bulan November 1941 dia menyerahkan tongkat komando kepada Fregattenkapitän der Reserve Ernst Hashagen. Komandan kedua ini bukanlah berasal dari generasi baru para kapten U-boat berpengalaman, melainkan veteran Perang Dunia Pertama yang pernah menjadi Kapten UB-21 dan U-62 dalam perang tersebut. Unit lain yang berada di bawah komando 2. ULD adalah 22. U-Flottille dibawah pimpinan Korvettenkapitän Wilhelm Ambrosius. Flotilla ini, yang bertanggungjawab terhadap masalah pelatihan praktis, dibentuk pada bulan Januari 1940. 2. ULD bertanggungjawab terhadap masalah pelatihan dasar bagi awak U-boat serta kursus kepelatihan bagi para perwiranya. Para murid diajari mengenai masalah mesin, senjata dan torpedo di bangunan-bangunan khusus milik 2. ULD. Peraturan mensyaratkan bahwa pelatihan berlangsung selama 3-4 bulan, tapi bisa juga lebih singkat tergantung kondisi. Pada saat itu kebanyakan partisipannya tinggal di kapal-kapal penumpang milik 2. ULD yang mulai dipakai dari bulan November 1940. Kapal-kapal ini merupakan bekas kapal pesiar “Kraft durch Freude” (Kekuatan Lewat Kegembiraan) Wilhelm Gustloff, juga Hansa dan Oceana. Wilhelm Gustloff, yang sebelumnya dipakai untuk kepentingan militer sebagai kapal rumah sakit, kini menemukan tempat berlabuh permanen di Gotenhafen-Oxhöft. Setidaknya 1.000 orang anggota 2. ULD tinggal di kapal tersebut. Mayoritasnya merupakan peserta kursus, meskipun sebagian instruktur - golongan apa yang dinamakan sebagai "personil inti" - juga tinggal di kapal. Orang-orang U-boat ini makan sehari-hari di kapal, dan beberapa kegiatan penyegaran serta permainan diadakan demi menjaga agar kejenuhan tidak melanda (sebagai contoh, film dipertontonkan dua kali dalam sehari). Pada awalnya kapal-kapal ini menyediakan sendiri kebutuhan mereka akan tenaga, uap dan air, tapi dari sejak tahun 1943 sebuah pembangkit listrik tenaga uap disediakan di lepas pantai untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan dimaksud bagi ketiga kapal tersebut. Sebagian besar "personil inti" yang sudah menikah memilih untuk tinggal bersama keluarga mereka di beberapa buah apartemen yang berada di Gotenhafen



Suasana pangkalan 22. Unterseeboots-Flottille (22. U-Flottille) di teluk pelabuhan Gotenhafen-Oxhöft yang membeku akibat cuaca ekstrim di musim dingin tahun 1941-42. Yang memakai skema kamuflase lima-warna di sebelah kiri adalah kapal pengawal U-boat "Erwin Wassner", sementara di sebelah kanannya adalah tiga buah U-boat latih Tipe II milik 22. U-Flottille yang terjebak di perairan beku tanpa sempat untuk menyelamatkan diri. Pengawal kapal selam tersebut mengawali karirnya di lautan sebagai "Gran Canaria" pada tanggal 21 Januari 1938, sebelum diambil alih hak kepemilikannya oleh Kriegsmarine di tahun yang sama. Setelah mendapat modifikasi yang diperlukan, pada tanggal 29 Maret 1939 dia operasional kembali dengan nama baru, "Erwin Wassner". Namanya sendiri diambil dari jagoan U-boat dalam Perang Dunia I yang juga adalah peraih Pour le Mérite, Erwin Wassner. Pada tahun 1930-an Wassner bertugas sebagai atase militer Jerman di London, dengan pangkat Konteradmiral, sebelum meninggal pada tahun 1937. Setelah Perang Dunia II pecah pada tahun 1939, F.d.U. (Führer der Unterseeboote) Karl Dönitz dan staff-nya memutuskan untuk menggunakan nama Erwin Wassner sebagai nama salah satu kapal komando Kriegsmarine, sampai dengan bulan November 1939 ketika staff operasi, yang telah direorganisasi ulang menjadi B.d.U. (Befehlshaber der Unterseeboote) di bulan Oktober sebelumnya, pindah markas ke Sengwarden yang terletak di dekat Wilhelmshaven. Kapitän zur See Hans-Georg von Friedeburg, Kepala Departemen B.d.U. yang bertanggungjawab terhadap masalah pasokan suplai bagi seluruh organisasi, menjadikan "Erwin Wassner" sebagai markas bergeraknya, termasuk saat kapal tersebut berlabuh di Gotenhafen-Oxhöft pada awal tahun 1942. Di malam tanggal 23-24 Juli 1944, "Erwin Wassner" ditenggelamkan oleh bom-bom pesawat Sekutu saat serangan udara malam yang dilancarkan oleh RAF Bomber Command di pelabuhan Kiel. Foto ini diambil oleh Kapitänleutnant (Ing.) Otto Elwert, seorang instruktur di 2. Unterseeboote-Lehrdivision (ULD, Divisi Pelatihan Kapal Selam Kedua) di Gotenhafen


 Suasana pangkalan 22. Unterseeboots-Flottille (22. U-Flottille) di teluk pelabuhan Gotenhafen-Oxhöft yang membeku akibat cuaca ekstrim di musim dingin tahun 1941-42. Kedua U-boat dari Tipe VIIC ini terjebak dalam perairan yang kini menjadi es. Karena pada saat foto ini diambil (awal tahun 1942), 22. U-Flottille hanya mempunyai satu buah kapal selam Tipe VIIC (U-178), maka kemungkinan besar kapal-kapal dalam foto ini adalah kapal baru yang sedang menjalani proses pengujian sebelum dinyatakan layak untuk operasional. Ketebalan pecahan es yang mengambang menunjukkan bahwa pada awalnya kapal-kapal yang terjebak dapat menembus melaluinya, hanya saja kemudian cuaca yang semakin membeku dalam waktu yang singkat membuat es-es tersebut berubah menjadi kumpulan solid yang tak terurai lagi


Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.2 - 2007

Monday, November 7, 2016

Volksdeutsche (Keturunan Jerman di Luar Negeri)

VOLKSDEUTSCHE BESSARABIA

 Setelah Tentara Merah Soviet menguasai wilayah Bessarabia pada tahun 1940, sebuah perjanjian tercipta antara Jerman dengan Uni Soviet (saat itu masih belum berperang), mengenai masalah relokasi orang-orang keturunan Jerman di wilayah tersebut ke Reich. Serbia, yang saat itu juga masih berteman dengan Jerman, membantu dengan menyediakan tempat penampungan sementara. Foto ini memperlihatkan saat Komisaris Persatuan Kultural Jerman-Swabia, Dr. Sepp Janko, memberikan pidato kepada rekan-rekan sebangsanya di sebuah kamp pengungsi di dekat Zemun, Yugoslavia, musim gugur tahun 1940. Di belakangnya adalah sebuah bendera hitam besar yang berisikan simbol-simbol pagan khas Nazi, dari kiri ke kanan: Wolfsangel (kebebasan), sekop (kerja keras), dan rune pria (kehidupan). Berdiri di dekat panggung adalah para etnis Jerman lokal, dengan anak-anak mereka yang memakai seragam hitam-putih dan memegang instrumen musik layaknya anggota Hitlerjugend. Saat tiba di Reich, para pengungsi ini kemudian menjadi obyek dari kontrol politik penguasa, dan sebagian besar dipekerjakan sebagai buruh kasar (dengan pria-pria dewasanya direkrut serta dikirim ke medan tempur). Dua tahun kemudian, Dr. Janko dan para pendukungnya juga "dipaksa" untuk memakai seragam Wehrmacht dan berangkat berperang - melawan negara yang pernah menampungnya: Yugoslavia

-----------------------------------------------------------------------------------

VOLKSDEUTSCHE POLANDIA

Dalam apa yang dinamakan sebagai "Koridor Polandia" di Tucheler Heide (wilayah diantara Tuchel dan Graudenz), bermukim banyak Volksdeutsche, yaitu etnis Jerman yang tinggal di luar negeri. Foto ini memperlihatkan saat Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) menyempatkan diri untuk berhenti dari perjalanannya di wilayah tersebut pada tanggal 6 September 1939 untuk menyapa warga etnis Jerman yang tinggal disana. Warga setempat tentu saja sangat terkejut dan tidak menyangka jika "Sang Penyelamat Jerman" kini tiba-tiba berada begitu dekat dengan mereka! Sebagian dari mereka begitu gembira bertemu dengan Führer-nya sehingga sampai meneteskan air mata. Momen ini dengan jeli dimanfaatkan oleh Heinrich Hoffmann, fotografer pribadi Hitler, yang kemudian mengambil foto diatas dan menampilkannya dalam bukunya yang berjudul "Der Große Deutsche Feldzug gegen Polen" (Peperangan Akbar Jerman Melawan Polandia) dengan teks tambahan yang menyatakan bahwa mereka begitu bahagia karena telah dilepaskan dari tirani orang-orang Polandia selama bertahun-tahun. Di tengah adalah SS-Standartenführer Johann "Hans" Rattenhuber (Kommandeur Reichssicherheitsdienst), sementara perwira Luftwaffe di sebelah kanannya yang tertutup mukanya adalah Generalmajor Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen dem Oberbefehlshaber der Luftwaffe und dem Führerhauptquartier)


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) menyempatkan diri untuk menyapa etnis Jerman di perantauan (Volksdeutsche) dalam perjalanannya melintasi Tucheler Heide (wilayah diantara Tuchel dan Graudenz), Polandia, 6 September 1939. Untuk identifikasi foto bawah: Perwira di belakang Hitler yang cemong wajahnya akibat asap dan debu perjalanan adalah SS-Gruppenführer Julius Schaub (Adjutant der SS beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), sementara yang berdiri di tengah adalah SS-Standartenführer Johann "Hans" Rattenhuber (Kommandeur Reichssicherheitsdienst). Perwira Luftwaffe yang tersenyum lepas di kanan Rattenhuber adalah Generalmajor Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen dem Oberbefehlshaber der Luftwaffe und dem Führerhauptquartier). Foto oleh Heinrich Hoffmann


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) menyempatkan diri untuk menyapa etnis Jerman di perantauan (Volksdeutsche) dalam perjalanannya melintasi Tucheler Heide (wilayah diantara Tuchel dan Graudenz), Polandia, 6 September 1939. Seorang wanita tua menyerahkan buket bunga dadakan - yang langsung diteruskan oleh Hitler kepada pesuruhnya (berpangkat SS-Hauptscharführer) yang berada di belakang. Berdiri di tengah adalah Hauptmann Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), sementara di sebelah kirinya adalah SS-Gruppenführer Dr.rer.pol. Otto Dietrich (Reichspressechef der NSDAP und Staatssekretär im Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda). Meskipun tidak berperang sebagai perwira aktif dalam Perang Dunia II, tapi Dietrich adalah mantan prajurit Jerman dalam Perang Dunia I, dan di kancah tersebut dianugerahi Eisernes Kreuz I.Klasse (seperti yang terlihat dalam foto hasil jepretan Heinrich Hoffmann ini)


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) disambut dengan meriah oleh warga Volksdeutsche saat tiba di lapangan udara Maslow (Polandia), tanggal 10 September 1939. Volksdeutsche adalah etnis Jerman yang tinggal di perantauan, dan banyak dari mereka yang menetap di Polandia Barat karena sebelumnya wilayah tersebut merupakan bagian dari Kekaisaran Jerman. Ketika pasukan Nazi menyerbu Polandia pada bulan September 1939, sebagian Volksdeutsche ini membantu para prajurit Wehrmacht secara langsung dengan jalan mensabotase fasilitas publik serta melakukan kekerasan terhadap warga etnik Polandia yang tinggal bersama dengan mereka. Yang paling militan diantaranya kemudian membentuk milisi yang dinamakan sebagai Selbstschutz. Organisasi ad-hoc ini nantinya dibubarkan pada awal tahun 1940 dan anggota-anggotanya disebar di Wehrmacht dan Waffen-SS


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) disambut dengan meriah oleh warga Volksdeutsche (bangsa Jerman yang tinggal di luar negeri) saat tiba di lapangan udara Maslow (Polandia), 10 September 1939. Di tengah adalah Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon) yang bertanggungjawab terhadap keamanan sang Führer selama kunjungannya ke Polandia (4-26 September 1939 dan 5 Oktober 1939). Pada tanggal 10 September 1939 Hitler berkunjung ke Opole/Oppeln, Końskie dan Kielce, sementara pada 11 September dia berada di Tomaszów dan Illnau

-----------------------------------------------------------------------------------

VOLKSDEUTSCHE YUGOSLAVIA

 Divisi Prinz Eugen dibentuk pada bulan Maret 1942 dengan anggotanya kebanyakan adalah Volksdeutsche (keturunan Jerman yang tinggal di luar negeri) dari wilayah Yugoslavia dan Banat (bagian dari Vojvodina). Foto di atas memperlihatkan Volksdeutsche anggota militer Yugoslavia yang menyerah saat Jerman menyerbu negara tersebut. Mereka memakai armband swastika di lengannya dengan tujuan agar bisa dilepaskan secepatnya dari kamp tawanan


 Etnis Jerman asal Kroasia, yang merupakan anggota Batalyon Disposisi dari SE "Prinz Eugen", bergerak melewati sebuah desa di Yugoslavia pada tahun 1942. Mereka mengenakan seragam Jerman dengan insignia layaknya SS - unit yang nantinya akan dimasuki oleh sebagian besar dari mereka, lebih tepatnya, pada divisi yang baru dibentuk yang mempunyai nama sama, Prinz Eugen (Divisi SS ke-7). Prajurit di belakang membawa serta senapan mesin tua ZB vz. 26 buatan Cekoslowakia, sementara sang perwira yang berjalan paling depan bersenjatakan senapan mesin MP 35 Jerman - yang memang banyak digunakan dalam peperangan melawan Partisan Yugoslavia. Perhatikan pula kendaraan tempur hasil modifikasi dengan bentuk tidak biasa yang ikut nongtot dalam foto ini. Hebatnya, kendaraan "antah berantah" ini nantinya mampu bertahan sampai akhir perang!


  Otto dan Stefan Bayer, etnis Jerman dari Novi Sad (Serbia), berpose bersama ibu tercinta mereka. Tak seperti kebanyakan Volksdeutsche lainnya yang berasal dari Yugoslavia, kedua bersaudara ini tidak direkrut kedalam salah satu divisi SS lokal, melainkan dikirim jauh ke utara di Finlandia untuk bergabung bersama dengan 6. SS-Gebirgs-Division "Nord". Otto mengakhiri perang sebagai tawanan Soviet, sementara Stefan gugur pada tahun 1944. Kini keturunan mereka juga tinggal di kota yang sama, Novi Sad, sebagai seniman dan penganut Kristen Ortodoks. Foto diambil di kota Serbia tersebut pada tahun 1943/1944

 -----------------------------------------------------------------------------------

RITTERKREUZTRÄGER

Leutnant Friedrich Bausch (6 Agustus 1915 - 21 April 1971) lahir di Schluckenau/Bohemia ketika wikayahnya masih menjadi bagian dari Kekaisaran Austro-Hungaria. Beberapa tahun kemudian tempat kelahirannya menjadi bagian dari Cekoslowakia dan Bausch menjadi seorang Volksdeutsche (Jerman Perantauan). Ketika Nazi Jerman menganeksasi negaranya pada tahun 1938, Bausch otomatis menjadi warga negara Jerman yang memenuhi syarat untuk menjadi anggota Wehrmacht, dan dia memilih Luftwaffe. Dalam Perang Dunia II dia terlibat dalam banyak aksi pertempuran, diantaranya yang paling menonjol adalah Pertempuran Kreta, Unternehmen Barbarossa, Pengepungan Leningrad, Pertempuran Sisilia, Pertempuran Monte Cassino, Pertempuran Normandia, Operation Cobra, Pertempuran Ardennes, dan Kantong Ruhr. Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 12 Maret 1945 sebagai Leutnant dan Führer 3.Kompanie / Fallschirm-Pionier-Bataillon 5 / 5.Fallschirmjäger-Division / LXVI.Armeekorps / 5.Panzerarmee. Setelah perang usai dia menjadi ayah dari tiga orang anak dan bekerja di tempat penyewaan mobil. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (Januari 1942) und I.Klasse (Maret 1942); Fallschirmschützenabzeichen; Erdkampfabzeichen der Luftwaffe; Nahkampfspange in Silber; serta Deutsches Kreuz in Gold (1 Januari 1945)



Sumber :
Buku "Der Große Deutsche Feldzug gegen Polen" karya Heinrich Hoffmann
Buku "Mit Hitler in Polen" karya Heinrich Hoffmann
www.bandenkampf.blogspot.com
www.das-ritterkreuz.de